![]() |
| Baca sampai akhir |
di dalam naungan pagi yang cerah dengan suhu menunjukkan angka 16° C. Sedikit menambah gaya tarik kasur, yang seakan enggan ditinggal walau sekejap layaknya muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Kegiatan yang paling pas nan cocok adalah menghidupkan layar lalu scrolling.
Entah itu aplikasi berupa facebook, twitter, dan atau instagram. Ya, mungkin dirasa ada sedikit penggolongan ketika bicara tentang sosial media, instagram yang walau dengan pesatnya perkembangan, tak menutup kemungkinan membuat konstruksi sosial bahwa instagram merupakan aplikasinya generasi yang dimulai dari minelial sampai generasi Z. Sama halnya juga dengan twitter. Sosial media yang baru baru ini kembali ramai, akibat banyak muncul tokoh dunia baik itu berupa seleb, presiden maupun tokoh fiksi layaknya upin & ipin dan bahkan ada juga akunnya kochenk oren, pocong.
Sampai sampai drama muncul:
Orang mencuit dalam bentuk ocehan dalam Twitter, lalu diuploadnya dalam sebuah akun drama instagram. Kegiatan itu tertangkap oleh muda-mudi yang seakan menemukan apa yang sebenarnya terjadi tapi tak bisa mengungkapkan. Ditangkaplah layar itu dengan sebutan Screenshot dan diabadikan dalam story di whatsapp, yang dengan niatan menghidupkan kembali facebook: dibuatlah snap ataupun status dengan hasil screenshot dari story whatsapp
Eh kok jadi seperti analisis, lanjut. Saat kegiatan scrolling sedang dijalani, nampaklah update an status dari guruku di waktu setingkat SMA. Yang nenunjukkan anaknya yang sedang akan pertama kali sekolah dengan anugerah bagi seorang guru adalah bisa mengantarnya. Haru juga dirasa, nggak munafik emang. beliau yang suaminya adalah abdi negara berupa tentara. Ya bisa mengantar dan bisa membesarkan anak, gimana ya sulit menjelaskan.
Teringat:
Dimata pelajaran sejarah indonesia tepatnya yang beliau ( guru yang muncul di fb) ajar. Dalam situasi ujian tengah semester(UTS). Terbaca : sebutkan bukti dari masuknya islam ke nusantara. Bingung,sumpek tapi gimana lagi namanya juga pelajaran sejarah, tapi kan soal lainnya penjelasan. Sampai tak mau berdamai dengan pikiran sendiri. Mikir, mikir dalem. Tengok kanan keliatan temen sibuk membuka tutup LKS yang diselingi dengan wajah bermimik mikir; liat atap; liat luar kelas disaat ada pengawas yang sedang melihat tingkahnya. Inginku mengikuti, tapi ku tak ahli. Daripada resiko dengan lebih banyak dua kali lipat. Ku urungkan niatku.
Melihat: waktu yang semakin mendekat.
Tak mungkin soal essay yang dengan waktu singkat mendapat PERTOLONGAN. Akhirnya mencobalah usaha yang diharapkan diberi setidaknya mendapat nilai bonus karena telah menulis jawaban.
Disaat jam pelajaran sejarah dimulai setelah adanya UTS. Beliau mengatakan ada beberapa anak yang mendapat nilai 100. Diriku? Ga mungkin lah, jawabannya aja ngaco. Dan beliau menyebutkan ada juga yang dalam kelasku. Dan menyebutkan namaku, lantas ekspresi yang keluar adalah ketawa dilanjut tidak percaya. Umumnya seperti semua orang, kan aku cuma laki-laki biasa.
Jawaban yang aku berikan setelah jawaban seingetku berupa nisan dan buku.ya emang aku ga belajar, jadi seingetku aja. Lalu aku tambahi rangkumanku atas penjelasan beliau yang sempat aku tulis sebelum adanya UTS ke buku catatan ku.
Jadi setelah aku menulis nisan ini, dan buku fi tsing atau apalah itu, aku menulis : tertera dalam buku catatan sejarah indonesia milik fatakhillah bahwasanya bla... Bla.. Bla...
Sempet ga percaya bahwa buku catatanku bisa jadi literatur sejarah juga.
Entah ibunya yang enakan atau apa aku yang emang beruntung, yang terpenting adalah kisah ini harus di abadikan. Salah satunya dengan menulisnya di blog ini.
Untuk pembaca (jika ada) mohon beri masukan
