Masih ingatkah dengan lagu berikut,
" Aku suka Singkong, kau suka keju " lagu dari Bill & Brod
Ungkapan kiasan yang menunjukkan perbandingan, seperti antara superior dan inferior.
Awalnya, lagu ini terdengar oleh telingaku hanya fokus pada bait itu.
Kupikir ini melebih-lebihkan suatu perasaan. Keju atau singkong itu hanya soal selera, pikirku.
Terlebih, sering ditemui di sepanjang jalan ada pedagang kaki lima yang menjajakan perpaduan keduanya. Called Singkong Keju atau Pohong Keju. Sama halnya dengan kisah asmara dua insan manusia yang masih memungkinkan untuk bisa bersama.
Tapi- tapi,
Keliatan idealis banget. Maklum juga sih, kebanyakan nonton sinetron di SCTV yang sering kali menunjukkan cinta dua kasta yang berujung happy ending. Pendapatku di perkuat dengan adanya berbagai drama yang ada di Kdrama, membuat kemungkinan fenomena cinta dua kasta ini bis berhasil buktinya diluar negeri sama terjadinya.
Ada untungnya juga punya sifat pesimis,
satu sisi pesimistis akan melihat kemungkinan terburuk pada satu kejadian.
Semisal saat berangkat kerja, jika mepet dengan jam masuk dan pas untuk perjalanan saja. Tidak tahu ada kemungkinan kalau ban bocor ataupun kehabisan bensin. Jadi memungkinkan akan telat masuk. Sifat pesimistis ini bisa untuk menanggulanginya.
Lantas apa hubungannya singkong-keju dengan gambar donat?
Idealisku tumbang saat tau kalau it's not only about the taste.
Titik balikku untuk menyadari ini menggunakan perbandingan antara donat dan mie lidi.
Bagaimana bisa?
Ini bermula saat di hari ulang tahun sejenis hawa,
Ada beberapa situasi pesimis tapi Pede.
- Pertama, sekolahku yang negeri tapi jauh di dalam daerah berbanding terbalik dengan sekolah doi yang mentereng di pusat kota dan jadi sekolah favorit.
- Kedua, keluarganya yang mapan berbanding dengan posisiku saat itu.
- Ketiga, doi memiliki paras yang jauh diatas rata-rata dan nampaknya jadi ulzzang*.
*Ulzzang yang dalam wikipedia disebutkan sebagai "best face" or "good-looking" di terminologi korea selatan. Sederhananya jadi Anak Hits untuk istlah saat itu.
Dan banyak hal yang buat pesimis untuk menyatukan dua keturunan adam dan hawa ini.
Namun rasa pedeku mengalahkan rasa pesimis dengan asas suka sama suka, pikirku. Gatau lagi kalau ternyata disisi sana jijik denganku.
Sampai di titik aku mulai sungkan untuk menyapa dan menjalin komunikasi di saat ada beberapa kesulitan. Tapi percayalah ada rasa khawatir di samping kesibukanku beradaptasi dengan lingkungan kampus saat itu.
Ingat betul saat rasa pedeku masih ada,
aku memutuskan untuk memberikan kado yang bisa dibilang life hacks. Yaitu berupa gunting kuku dan makanan ringan yaitu mie lidi. Pertimbangan ini aku ambil ketika takutnya kehidupan asrama yang membuat barang sekecil gunting kuku mudah sekali hilangnya.
Jadi perlu untuk memilikinya dalam kepemilikan pribadi. Ditambah makanan kecil berupa mie lidi yang merupakan makanan kecil yang viral di lingkungan sekolahku. Terlebih makanan itu yang terkadang aku membantu temanku menjual dan menawarkannya ke kelas-kelas lain.
Entah seremeh apa pemberianku saat itu.
Jauh dari zaman itu, oktober tahun ini.
Kebetulan aku melihatnya merepost koleganya yang sekedar mengucapkan selamat dan yang memberikan kado dihari baiknya. Niat hati ingin ikutan mengucapkan, meskipun tidak ada harapan untuk di repost sama sekali.
Tapi di akhir storynya yang berubah jadi titik-titik, aku lihat kata terakhir untuk tidak lagi me repost dan diakhiri dengan berbagai macam pemberian dari kekasihnya kini dan semoga jadi jodohnya.
Terlihat gambar skin care satu paket yang setelah di telusuri di online shop berwarna oren, mencapai setengah dari angka satu juta.
Belum selesai, aku lihat juga ada cincin dan merek footwear yang sempat aku pahami sebagai merk makanan donat called Donatello.
Maklum migrasi ke kota baru mulai 2018, dan awam kali masalah itu.
Bagaimana perasaanku?
Mak deg aku....
Tapi aku sadar kok, ada konsep namanya sekufu dalam islam.
Hal ini kebaikan untuk para calon pasutri, agar kehidupannya seimbang.
Ibaratnya gini, sang cowok harus sama derajatnya dengan si cewek. Kalau tidak akan ada kesulitan di belakang.
Semisal itu aku, yang masih belum punya apa-apa ini bersama beliau. Kelak ditakutkan ada kebutuhan yang tidak bisa aku penuhi.
Yaah, anggap saja kebutuhannya orang yang biasa punya uang lebih mungkin berupa skin care yang jadi agenda wajib dan kebutuhan dasar mereka untuk harian mereka.
Padahal menurutku itu bukan kebutuhan yang mendasar, dan cenderung secondary bahkan tersier.
Dikuar sistem kesadaranku, tidak ada niat untuk berharap atau apapun.
Hanya saja sadar diri dan berharap dengan pesimistisku ini bisa jadi doa untuk hubungan kereka menjadi langgeng. Karena sama saya jauh sekali gapnya dan demi kebaikan sesama manusia.
Peace out ✌️