Aku tahu kita tak saling bicara. 

Bicara tentang kejujuran dan perasaan, yang dirasakan.

Nampaknya topik tentang makanan dan tempat yang kekinian, lebih cocok untuk mengabaikan.

Kerumunan serikat menjadi neraka bagiku


Terimakasih yang teramat agung atas perhatian dan pemakluman.


Izinkan aku sedikit kesal karena kau memilikiku.

Sepanjang hidup kau menahan, bahkan yang seharusnya diluar kendalimu.

dan amat membingungkan, bagaimana bisa kau bertahan?

Bahkan sedikit naif untuk tetap terlihat tertawa.

Meskipun kau merasakan lelah dan sakit yang takkan tertahan.


Sempat terpikirkan untuk ku akhiri, secepatnya.

Jangan tanya apanya? Karena sudah tau harusnya.

Tapi seperti yang dipahami, cupunya aku pada rasa sakit.

Juga agar kau tak akan lebih tersakiti.

Namun ketakutan terbesarku justru kau teramat sakit hati.

Jika benar saja kulakukan tindakan ini.


Seperti yang kau pahami, tingginya sifat gengsi.

Seperti halnya laun yang kau ketahui.

Tahu sajalah, ditto.

Karena Opto Ergo Sum,

Aku memilih maka aku ada.

Restui aku menaja kembali

Perlahan

Mungkin juga akan perlu banyak kelapangan.