Kalau kataku sih, ga usah ikut deh...
Nada serupa yang kemudian muncul dan bergema. Tidak lain dan tidak bukan ya dari lingkungan terdekat yang disebut keluarga dan teman. Memang rencana perjalanan kali ini terdengar sedikit gila.
Pernah terdengar kalimat dari salah satu narasumber dari youtube,
kita hanya butuh 50 detik untuk bisa mengambil sebuah keputusan antara pilihan yes or no. Setelah itu kita hanya mencari-cari pembenaran atau alasan untuk menguatkan pilihan kita.
dalam detik- detik semacam itu, intuisiku bukan tanpa ragu berkata ingin ikut perjalanan kali ini. Jelas dengan hadirnya sedikit keraguan ini akan menimbulkan penyesalan nantinya. Jika dipikir-pikir aku sudah akrab dengan banyak penyesalan di perjalananku mengelilingi matahari ke duapuluh lima kali ini. Tidak tahu pasti aku harus berkeliling berapa kali lagi sampai akhirnya mencapai finishku.
Oh iya, dari tadi kita bicara terkait dengan keputusanku terkait rencana perjalananku yang sedikit gila kata orang, dari rumah ke pantai selatan. Lebih tepatnya adalah pantai bajul mati. Padahal perjalanan ini cuma sekitar 30 kilo jaraknya.
Mungkin kebawah nanti, aku hanya sekedar mencari-cari alasan setelah keputusan di 50 detik pertama itu. Bagaimana mungkin jalan 30 kilo ini terdengar jauh, jikalau ada lari marathon yang dari segi jaraknya juga lebih jauh. Saya jadi sangsi bagaimana merasionalisasi ini sebagai jauh jika lari marathon saja jaraknya sekitar 42 kilo jauhnya (*CMIIW). Akan lebih bikin pertanyaan lagi jika akan dibandingkan dengan triathlon ironman yang harus berenang 3,8 km yang harus dilanjutkan 180,2 km mengayuh sepeda, dan 42 km berlari. Tentu hal ini kemudian bisa membuat suatu hal terlihat lebih kecil dibanding lainnya.
Aku juga mendengar ada yang membandingkan bahwa masih mending naik gunung daripada harus jalan kaki sejauh itu. Padahal melansir dari blog eiger, perjalanan untuk mendaki gunung buthak itu membutuhkan waktu sekitar 7.5 jam untuk sampai ke puncak gunung tanpa waktu istirahat. Jadi saya juga bingung lantas apa yang bikin hal ini lebih mending daripada hal itu. Karena itu pun juga berakhir dengan hal yang sama saja.
Bicara berkaitan dengan gunung, kebetulan penulis ini memiliki darah wangi istilahnya. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan di suku yang menyebutkan hari kelahiran saya bertepatan dengan hari-hari tertentu yang mengandung sebuah kekhususan tertentu. Meskipun secara pribadi, saya belum mengetahui apa keuntungan tersendiri dengan lahir di hari yang wangi tersebut. Hahaha yang penting saya mendapat predikat yang baik dalam hidup penulis, meskipun berkaitan dengan hal yang mistis.
Selain itu penulis ini juga kebetulan lahir dihari malam jum'at kliwon. Mengetik ini saja penulis sedikit merinding, iya sama dengan persepsi publik yang mengatakan bahwa hari itu hari yang angker dan berkaitan erat dengan kemunculan sosok-sosok yang harus memiliki kekuatan tertentu untuk dapat melihat mereka. Sehingga dengan predikat ini, aku kemudian ditolak secara mentah tapi halus saat hendak meminta izin untuk naik gunung.
Katanya naik gunung itu keren, bisa melihat watak asli seseorang. Sehingga aku penasaran bagaimana watakku jikalau benar jadi naik gunung. Tapi apalah daya, penolakan halus ini tidak mampu saya abaikan karena saya mendengar kabar yang hampir diamini oleh semua orang. Bahwa jika tidak mendapatkan restu ibu untuk naik gunung, akan menjadi malapetaka tersendiri saat naik ataupun turun dari gunung. Sehingga saya tidakmau menambah beban rombongan jikalau saya jadi ikut.
Jadi salah satu kesempatan tersendiri saat saya mendapatkan tawaran untuk ikut jalan ke pantai tersebut, karena memang mustahil saya untuk ikut naik gunung. Tapi jadi pertanyaan tersendiri untuk menyatakan lebih baik naik gunung daripada jalan kepantai disaat saya memiliki darah wangi ini.
Selain karena diwaktu itu aku merasa butuh untuk melakukan perjalanan jauh dan sedikit melihat hal natural lain. Terlebih dengan tujuan akhir pantai yang menyuguhkan warna oranye sebagai suguhan alami yang tentuya akan dirindukan jika kita sempat untuk menjumpainya. Tentu itu menjadi daya tarik sendiri, meskipun melihat tujuan akhir merupakan salah satu pertimbangan lain.
Dibalik itu, saya sebenarnya penasaran diwaktu yang cukup lama itu bagaimana proses didalamnya untu mencapai suatu tujuan akhir tersebut. Pasti banyak dilema-dilema didalamnya. Pasti ada kisah penyesalan, ketakutan, dan sedikit rasa menyerah. Sehingga untuk dapat tahu itu aku harus menjalani sendiri, karena aku juga tidak mungkin menyuruh orang lain untuk ikut dan kemudian melakukan wawancara.
Tapi ini diantara ini semua, saya hanya mencari-cari alasan. Jika boleh dikatakan, sepertinya yang benar-benar alasan adalah jiwa nekat anak muda yang bertemu dengan kesempata ditambahi dengan rasa penasaran atas segala proses-proses di dalamnya. Jadi untuk yang bertanya-tanya kenapa orang tuaku tidak mengingatkan, maka bisa saya jawab karena keinginan pribadi yang sangat kuat alias ngeyel alias angel kandanane. Disamping itu, jika dipahami pak Ken memiliki umur yang hampir sama dengan orang tuaku. Maka sempat terbesit bayangan orang tuaku sendiri jalan sendiri, maka aku harus ikut pikirku. Meskipun pada akhirnya aku adalah pihak yang mempersulit.
Ternyata sudah cukup banyak alasan yang sudah saya cari-cari, kalau dirasa masih kurang harap hubungi secara pribadi.
Selain berjalan menuyusuri tempat-tempat di kampung, aku jadi paham sedikit bahwa ada jalan kecil-jalan kecil yang kemudian menyambungkan satu tempat yang saya ketahui. Semacam ada efek suara seperti saat main GTA "new map unlocked". Hal ini tidak bisa dibanggakan juga, tapi yang namanya pria pasti paham bagaimana rasanya new map unlocked ini. Hahaha mungkin secara tidak sadar aku akan berjalan dengan sedikit petantang petenteng ala Carl Johnson atau CJ di karakter GTA.
Sepanjang perjalanan itu, pasti ada obrolan yang muncul begitu saja. Tapi tak jarang kita kesulitan untuk mengobrol karena akses menuju pantai dengan jalan yang sempit membuat kita harus mengalah daripada mobil yang lewat. Tak jarang mobil itu berukuran besar, entah itu membawa tebu atau bahkan membawa bahan bangunan seperti mobil molen. Kita tidak akan berpikir ada hak pejalan kaki dijalan-jalan seperti itu, juga tidak terlalu make sense kalauu kita tidak mau mengalah dengan alasan tersebut.
Diantara perjalanan itu, pasti banyak pertanyaan-pertanyaan remeh yang keluar dari mulut saya. Pasti pak Ken juga tidak habis pikir, mengapa pertanyaan seperti itu muncul dari mulut saya. Salah satunya pertanyaan terkait: sistem pembayaran saat orang korea berkegiatan minum-minuman.
Di drama yang pernah kulihat, mereka hanya akan meminta tambahan botol soju terus menerus sampai mereka benar-benar tepar. Hal itu sempat membuat saya penasaran, minum seperti itu harus bayar langsung dimuka atau dibayar di akhir. Karena si penjual akan kesusahan juga kalau harus menagih pembayaran di saat pelanggannya benar-benar sedang fly. Tapi jika kalian tidak penasaran dengan jawabannya, kalian bisa lanjut di paragraf berikutnya. Pak Ken tertawa terbahak-bahak sampai ku dibuat mati gaya. Jadi ternyata pembayaran minum-minum disana tergantung warungnya juga wwkwkw, ada yang di awal dan ada yang di akhir. Sudah.
Tidak jarang juga muncul pertanyaan-pertanyaan berat, ditengah perjalanan. Mulai dari masalah asmara, tujuan hidup dan masa depan. Pak Ken seringkali memancing-mancing pertanyaan yang berkaitan dengan asmara. Hanya karena aku dalam keadaan yang sadar, jadi aku bisa berusaha menjauhkan topik itu.
Bukan karena apa, hanya kurang siap saja jika topik itu di tanyakan secara langsung. Tidak siap materinya, ataupun pandangannya. Entah bagaimana, secara reflek aku akan menjauhi topik itu. Seperti halnya salah satu pertanyaan pak Ken terkait tipe wanita idealku seperti apa. Dipikiranku saat itu, pasti susah menjelaskannya saat harus menunggu semacam kejutan listrik untuk bisa mengidentifikasinya.
Bagaimana ya pak...., tapi hanya itu yang keluar. Beliau pun menambahkan seperti siapa perempuan yang sangat tipeku di komunitas yang kami ikuti. Tentu ini tidak bisa saya jawab, dan hanya keluar bunyi-bunyian Hmm....Hmm... akhirnya saya menemukan solusi dengan menyebut Kim Minju, tipe ideal dalam Idol Korea. Sedikit salahku juga, aku susah mendeskripsikan Kim Minju karena gap generasi dengan beliau, mungkin kalau IU beliau masih paham. Tanpa antisipasi yang baik, bak boomerang pertanyaan itu kembali dengan liarnya. Yaudah, kalau begitu yang cantik itu seperti siapa di komunitas. Ah, kembali dengan bunyi-bunyian Hmmm,,, hanya saja kini ditambahi dengan hzzt,,,,.
Cuaca sedang teduh, dengan sedikit mendung dan matahari yang kadang-kadang muncul di celah-celah dedaunan. Tapi kenapa menjadi kosong isi pikiran ini?? Aku juga bingung.
Entah bagaimana detailnya, aku berhasil bertanya bagaimana beliau bertemu dengan isterinya. Bak drama korea yang biasa saya lihat, isterinya dulu membencinya. Bahkan beliau menggunakan istilah musuh untuk menceritakan situasi pandangan istrinya. Satu kejadian di India sedang banjir, dan mereka harus tetap mengajar sekolah. Karena sedikit takut atas ketidakpastian dalam air tersebut, pak Ken menawarkan punggungnya untuk menggendong. Absolute cinema, anjay. Dari situ isterinya mulai berubah pikiran dan akhirnya mereka menikah. Tentu aku hanya senyam senyum sendiri saat mendengarkan cerita ini.
Tak belajar dari pengalaman, pertanyaan semacam itu kemudian menyambarku kali ini. Sudah kucoba kutolak, tapi seperti biasanya aku yang kalah. Akhirnya saya menceritakan pandangan saya betapa kasihannya jika ada mertua yang mendapatkan menantu macam aku ini. Adegan selanjutnya menjadi nasihat panjang yang belum bisa saya tuliskan, tidak tahu bagaimana juga menuliskannya. Setelah nasihat-nasihat itu berjalan secara natural yang juga menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis terkait usia ideal, persiapan mental, sampai kehamilan. Tentu itu harus terpikirkan saat akan memutuskan untuk menikah, karena hal itu bukan hanya tentang aku tapi juga tentang kehidupan pasangan dan bahkan keluarga-keluarga dibelakangnya. Beliau bahkan sedikit heran ternyata saya terpikirkan tentang hal-hal teknis semacam itu, tapi sebenarnya saya juga bingung. Soalnya sejauh ini, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri sendiri pun aku masih kewalahan tak karuan.
Sudah belasan tahun pak Ken di Indonesia, aku tahu bahasa indonesianya sudah sangat baik. Tetapi entah mengapa di sepanjang perjalanan kami sedikit terkendala dengan bahasa, padahal jika ada tamu dari Korea beliaulah penerjemahnya. Sehingga beliau seringkali menggunakan aplikasi penerjemah buatan naver yang memiliki klaim terbaik.
Tak jarang istilah yang dicari kemudian tak sesuai dengan konteks yang sedang ingin dikatakan. Sedikit kelelahan juga membuat pikiranku sedikit berkerja lebih lama, meskipun memang selama ini sudah agak lama. Biasanya padanan kata yang dicari bisa ketemu setelah diskusi dengan waktu yang tak sedikit. Aku sempat insecure, pak Ken yang seringkali menjadi penerjemah kemudian harus sering buka aplikasi saat mengobrol denganku. Apa iya sesulit itu berkomunikasi dengan sesosok penulis ini?
Diantara istilah yang ditanyakan artinya adalah gengsi. Harusnya kata Gengsi kemudian merujuk pada istilah perasaan ingin dihargai, dihormati ataupun dianggap tinggi oleh orang lain, ini seringkali ditambahi dengan keengganan untuk melakukan sesuatu yang dianggap merendahkan citra diri. Dikarenakan pikiran yang sedikit lemot, saya kemudian menjelaskan konteks negatif dari gengsi yang membuat orang tidak jujur pada diri sendiri. Tapi setelah beberapa waktu berdiskusi, pak Ken bertanya konteks gengsi saat ada perkumpulan di tempat elit. Akhirnya aku sadar bahwa gengsi ini justru berkaitan dengan harga diri ataupun prestise sosial. Dari kejadian itu, sepertinya saya harus belajar menulis lagi. Karena dengan menulis, saya akan kembali belajar dan memperbarui pengetahuan. Termasuk juga dengan istilah ini yang membuat saya sedikit mencari tahu lagi arti-arti dari sebuah kata.
Pak Ken sering kali membanggakan pembelajaran teknik turunan. Konteksnya bahwa saat jalan turunan, beliau akan lari-lari meskipun itu curam. Saat mengikutinya, jika salah gerakan ataupu sedikit saja kesalahan langkah pasti saya akan jungkel dan menggelinding bahkan melibas pak ken yang ada didepan saya. Disamping kaki yang tak lagi kuat dengan kecepatan tinggi untuuk jalan yang curam, saya memberi contoh kepada beliau untuk pelan-pelan dan sedikit menahan dengan teknik kaki tertentu.
Tapi beliau meyakini ini adalah benar-benar teknik untuk turun. Absolutly lost in translation. Satu yang sedikit memalukan, bahwa setiap forum yang membicarakan perjalanan jalan kaki beliau akan bilang belajar teknik turun santuy itu dariku. Hanya saja aku takut sebenarnya itu sangat salah jika dibawa ke ranah professional.
Salah satu kesalahan saat perjalanan itu adalah makan berat ditengah perjalanan. Sahabatku bertanya apa makanan yang saya konsumsi, dengan pedenya kujawab ayam bakar. Iya AYAM BAKAR. Apalagi nasinya porsi besar, PORSI BESAR.
Akhirnya dia bercerita kalau biasanya marathon itu mengkonsumsi sosis dan sekedar makanan ringan bukannya makan berat. Ah baru kusadari, itu kesalahan yang fatal. Pantas saja di jarak 2 jam sebelum titik tujuan saya kemudian merasakan sedikit mual dalam perut. Di titik itu, aku hampir menyerah.
Bagaimana tidak, rasa mual semakin menjadi-jadi dan jarak dengan beliau semakin jauh. Kalaupun kaki sudah agak sulit untuk diajak kompromi, tapi masih bisa sedikit dipaksa untuk berjalan 2 jam terakhir. Masalah lambung, siapa yang bisa mengontrolnya. Hanya takut untuk muntah, dan nantinya akan menyusahkan orang lain. Selain itu aku juga takut black out yang juga akan berujuang menyusahkan orang lain. Setelah menyerah 5 menit tepat, saya beresimpulan untuk bisa menyelesaikan perjalanan yang sudah saya mulai. Kalau dilihat-lihat, 5 menit itu tampak singkat tapi percayalah pergumulan pikiran di kepala itu terasa sangat lama dan penuh pertimbangan.
Akhirnya estimasi waktu 2 jam itu harus menjadi berlebih dan baru sampai di pantai bajul mati sekitar pukul 18.00 WIB. Tentunya hal ini berkaitan dengan kecepatan langkahku yang turun secara drastis, beliaupun menurunkan pacenya guna menyesuaikan.
Sudah sering ku katakan untuk bapak duluan saja, saya pasti menyusul dan sampai bajul mati. Meskipun aku tidak yakin bisa datang dipukul berapa. Karena sangat tidak mungkin juga kalau saya tidak melanjutkan perjalanan dan memilih pulang, mengingat 2 jam ke pantai nampak lebih dekat daripada 8 jam ke arah rumah. Beliau secara mendadak mengingatkanku pada lagu Hindia- untuk apa- untuk apa?.
Cepat namun sendiri, untuk apa....
Dengan nada yang sama, beliau keukeuh dan membuatku merinding
Kalau saya datang duluan tapi sendiri, untuk apa....
Ucapnya mantap, Hindia juga pak??
Jadi tak jarang obrolan saya dengan beliau yang membuat merinding, dan bahkan hampir tumpah air mataku. Justru keadaan itu datang bukan saat pembicaraan dalam topik yang sedikit berat, tapi keadaan sederhana dan kata sederhana yang tanpa sadar menusuk dan merobohkan sistem pertahanan saya. Untungnya posisiku yang seringkali dibelakang mungkin membuat tidak terlalu kentara. Entah juga kalau beliau sadar dari beberapa kali suaraku yang pecah saat aku harus menjawab beberapa pertanyaan atau sekedar menimpali obrolan tersebut.
Sesampai di gerbang pantai, pak Ken melempar gurauan bahwa aku boleh pingsan saat di depan rumah pak Thom. Gaya candaanku yang jelek dan kadang garing ini secara otomatis menjawab bahwa sepertinya tidak akan pingsan, cuma nangis dikit mungkin pak.
Setelah sampai di depan tempat tinggal pak Thom dan menyapanya, saya melihat obrolan akan berlangsung panjang. Aku menyela untuk izin ke pinggir pantai untuk mengabadikan senja yang tersisa, dan mungkin lebih tepatnya menjauh kalau saja menangis tidak lagi malu didepan banyak orang.
Sedikit takut akan kehabisan moment untuk mengabadikan senja di pinggir pantai, dan sedikit kesibukan untuk mengabari rumah jikalau sudah sampai di pantai dengan selamat. Hal ini kemudian membuat saya sedikit lupa bahwa aku menjauh untuk dapat diam-diam mengeluarkan air mata. Setelah mengambil beberapa foto dan video saya fokus mendengarkan suara ombak yang saling berbenturan. Langit dengan malu-malu berubah menjadi gelap menyaksikan seonggok manusia sok konsentrasi dengan memutar lagu Rose-nya. Sebuah paduan yang tiada duanya saat memutar suara Rose dengan ditambahi suara ombak.
Hanya terasa sebentar menikmati keindahan dan kenikmatan ini, ada cahaya-cahaya yang mendekat kearahku. Ternyata cahaya itu dari senter pak Thom yang sedikit khawatir, dikira pingsan. Beliau menyampaikan kabar untuk segera bebersih guna segera makan dan pijat. Sesampai di depan rumahnya, pak Ken kemudian berpamitan untuk mandi. Tapi ternyata beliau terlihat kesusahan berjalan, hal tersebut menjadi sebuah jokes tersendiri di dalam forum tersebut saat diantara kami berjalan.
Sekembalinya aku dari mandi ternyata pak Ken sudah dipijit, beliau tampak kesakitan dengan amat. Padahal disepanjang jalan beliau bercerita bahwa sering untuk pijat, hal ini berbanding terbalik dengan aku yang sangat tidak tahan dengan pijat. Terkadang sensasi yang dirasakan itu bukan sakit, melainkan geli. Tapi geli semacam itu yang membuatku enggan dipijit selama ini. Kali ini, saya tidak dapat menolak pijatnya. Lebih takut tidak bisa berjalan daripada kegelian saat dipijat.
Ternyata saat memijatku, tidak sesakit itu. Salah satu kuncinya adalah bu kulo larene mboten kiat loro kataku. Tapi ini serius, bahwa pijatannya sangat jauh powernya dengan saat bapakku biasa pijat. Akhirnya saya bisa menikmati pijat itu daripada harus ketakutan dengan rasa sakit yang terbayang dikepala.
Disaat seperti itu, orang rumah menyuruhku pulang dengan cara ikut saudara mobil saudara yang sedang mengunjungi pantai Sendang Biru dengan kawan-kawannya. Saat makan malam yang telah disuguhkan, akupun izin untuk pulang dan bareng saudara ke daerah Gondanglegi. Akhirnya kita semua mengobrol segala bentuk topik sambil menunggu saudara mengangkutku.
Mobil pun putar didepan rumah pak Thom, mobil land cruiser jadul yang sangat menawan. Klasik namun tetap memberi kesan yang gagah. Anjay, kagumku dari dalam hati. Mobil pun segera pergi dan melewati jalan yang tak lagi dapat disebut jalan, akibat proyek yang belum jelas lanjutannya di jalur Bantur. Tapi dengan mobil ini, tak terasa ada lubang semacam itu. Pasti ini jam terbang saudaraku yang telah menyetir mobil disegala medan dan waktu yang lama.
Seturunnya di Gondanglegi, sambil menunggu sepedaku diantar ke titik lokasi terkini akupun absen jama' ta'khir di jam satu dini hari. Untungnya tidak ada orang, ku berjalan dengan tangan-tangan yang kebingungan untuk meraih tembok sebagai bantuan dan sebagai arah jalan. Tentunya siapa saja yang melihat caraku berjalan, akan kebingungan antara kasihan ataukah menertawakannya karena memang itu lucu.
Sebelum mengantarkan temanku pulang, kita mampir menghangatkan perut dengan memasukkan nasi goreng kedalamnya. Takut menyita jam tidurnya yang semakin lama, aku meminta untuk segera pulang.
Sesampai dirumah, kebetulan bapak sedang kebangun dan membantu membukakan gerbang dan menguncinya setelah aku masuk. Beliaupun tertawa-tawa di dini hari ini saat melihat caraku berjalan.
Beliaupun akhirnya bercerita, kalau inilah salah satu alasan mengapa beliau sempat ragu untuk mengizinkanku mengikuti perjalanan ini. Meskipun beliaupun dulu pernah melakukan perjalanan dari rumah ke pantai, ke cangar ataupun ke bromo di masa mudanya. Konsekuensi susah jalan inilah yang kemudian menjadi kesangsian, meskipun ada hal-hal yag menyenangkan dibalik itu. Biarkan hal semacam ini menjadi kisah tersendiri di antara perjalananku selama ini.





